Separoh otakku kujinjing selalu, ini bukan sebuah judul satire dari pertunjukan teater.
Namun menjadi sebuah judul artikel dari harian kompas yang menggambarkan betapa tergantungnya kita pada benda tersebut. Mungkin tidak berlebihan pemberian judul ini mengingat pada kenyataannya kita kaum profesional semakin tergantung dengan benda yang bernama komputer notebook atau biasa kita sebut laptop.
Buat anggota mobile community ini, yang makin marak di kota-kota besar dunia, tak terkecuali di Jakarta. Alasan utama penggunaan laptop ini adalah kesibukan yang tinggi dan keterbatasan waktu. Di sinilah benda-benda mobile seperti komputer laptop dan telepon selular menemukan momentum perkembangannya.
Kelahiran Byon
Kali ini kita tidak akan berdebat masalah pemanfaatan laptop dalam menunjang kegiata para anggota mobile community. Tapi kita lebih menyorot pada aspek hardware dari laptop itu itu sendiri. Pada konteks inilah kelahiran Build Your Own Notebook (BYON), menjadi hot issue bagi kalangan anggota mobile community. Ditengah maraknya pemasaran laptop, brand Byon menjadi sebuah icon perkembangan hardware untuk laptop pada generasi kedua atau terkenal dengan sebutan Common Building Blocks (CBB) Interchangeability. Dengan sistem CBB ini maka memungkinkan komponen-komponen laptop dapat dibuat secara standar.
Secara lebih sederhananya dalam perkembangan ke depan, hardware laptop sama dengan hardware desktop yang dapat compatible untuk diganti-ganti sesuai dengan tuntutan kebutuhan performance pengguna komputer. Mungkin tidak persis sama dengan perkembangan desktop yang dulu terkenal dengan sebutan ”komputer jangkrik”, untuk komputer desktop yang dibuat secara rakitan.
Untuk konsep “rakitan” dalam Byon ternyata tidak semata-mata mengandalkan harga murah atau mass production, namun telah mengadopsi prinsip-prinsip marketing, yaitu: customization. Hal ini menjadi sesuatu fenomena penerapan prinsip-prinsip marketing yang menarik. Karena dalam perkembangan desktop sebelumnya, produk rakitan itu identik dengan produk murahan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Meski sebenarnya secara kuantitas produk desktop rakitan mendominasi, baik mungkin karena pertimbangan harganya yang murah atau mungkin malah karena tuntutan performance yang bagus.
Best value vs life style
Untuk membuat image lebih dibandingkan dengan brand sudah ada, ternyata Byon tidak main-main. Tengok saja pada acara peluncuran perdana merek byon, computer laptop hasil rakitannya tersebut berhasil dilelang dengan harga Rp 116 juta. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan, apakah mungkin laptop bukan lagi sekedar produk teknologi, namun lebih merupakan cerminan gaya hidup.
Karena memang harga sebesar itu tidak hanya sekedar menghadirkan kecanggihan teknologi, tetapi lapisan emas warna kuning pada panel monitor dan pada logo BYON dan dibuat sangat limited, sungguh merupakan cermin dari sebuah gaya hidup. Kalau sudah menyangkut gaya hidup harga premium sudah tidak lagi menjadi faktor penghalang bagi customer.
Bagi kalangan praktisi marketing, kemunculan brand Byon yang notabene merupakan brand lokal yang membidik dua segmen khusus sekaligus, yaitu: pertama, customer yang ktitis terhadap performance sekaligus harga sebuah laptop, yang mungkin sering kita sebut sebagai kelompok yang yang concern pada best value. Artinya bukan hanya sekedar murah, namun tergantung performance-nya, misalnya performance: processor, RAM, battery dan monitor.
Kedua, customer yang disamping menuntut performance komponen yang tinggi, namun yang lebih penting juga accessories yang customize sekaligus limited edition. Kelompok yang kedua ini sudah memposisikan laptop sebagai gaya hidup atau bahkan sudah menjadi identitas tersendiri, seperti juga barang-barang yang mencerminkan gaya hidup bagi penggunannya.
Bidikan pada kedua segmen ini menjadi sebuah fenomena yang menarik bagi kajian dalam dunia marketing mengingat, banyak brand yang lain gagal menjalankan strategi marketingnya karena tidak fokus pada satu segmen. Mungkin dalam perkembangannya ke depan, Byon akan membedakan brand-nya dengan sebutan silver untuk segmen yang pertama dan gold atau platinum untuk segmen kedua. Masih terlalu dini untuk mengungkapnya, mengingat brand ini baru saja dilahirkan.
Bagi anggota mobile community kehadiran brand Byon ini menjadi alternatif yang menarik ditengah tawaran brand yang sudah ada. Ditengah era yang hyper-competition, apakah brand Byon ini akan berkembang dengan subur atau malah sebaliknya layu sebelum berkembang, hanya waktu yang akan mengujinya. Arofiq




